The Story of Me

Maret 13, 2009

Ass wr wb

Buat temen semua yang saya yakin anak-anaknya masih kecil-kecil (lebih khususnya anak perempuan), perhatikan asupan GIZI anak khususnya YODIUM. Judul di atas sengaja pake huruf besar, supaya hal tersebut menjadi perhatian buat kita semua sebagai orang tua ataupun calon orang tua. Tulisan ini hanya berisi cerita pengalaman pribadi yang pengen saya bagi buat temen semua.

Dimulai sekitar tahun 1995 dan atau 1996 yang lalu (saya lupa tepatnya kapan), tetangga saya melihat ada benjolan kecil (ukuran diameter sekitar 1.5 cm) di leher bagian bawah sebelah kanan. setahu saya ini daerah kelenjar tiroid. Setelah dibawa ke puskesmas (dokter umum), orang tua melarang memencet/memegang benjolan tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut. Sampai melewati masa kuliah, kerja dan berkeluarga tidak ada keluhan sama sekali terhadap benjolan tersebut. Bahkan dari hasil chek up terakhir (1 Nop 2007) semua hasil tes menunjukkan kondisi yang normal, mulai dari tes paru-paru, hasil rontgen, tes jantung/rekam kerja jantung, tes darah, tes urine, termasuk kadar hormon tiroidku. Sebenarnya ada 2 benjolan, yang satunya lagi di payudara. Tetapi benjolan yang di payudara ini munculnya sekitar tahun 1997-an.
Setelah menikah (Maret 2001), suami meminta saya untuk segera operasi dan yang menjadi prioritas utama saat itu adalah benjolan yang di payudara. Jujur saja, saat itu banyak sekali ketakutan-ketakutan yang seharusnya tidak perlu dipikirkan justru menjadi pemikiran utama saya. Pemikiran saya sudah terlalu jauh, seandainya benjolan di payudara tersebut adalah kanker, tentunya payudaraku harus dipotong dan ditindaklanjuti dengan ‘kemo’ yang katanya sangat menyakitkan. Ego-ku sebagai wanita lebih memenuhi pikiranku saat itu. Lebih jauh lagi aku berpikir, seandainya aku punya anak, aku merasa sangat bersalah terhadap calon anakku kelak karena tidak bisa menyusuinya seandainya benjolan tersebut memang kanker.
Setelah melewati perdebatan yang cukup untuk membuat aku berpikir ulang, akhirnya aku mantap untuk menjalani operasi benjolan di payudara. Saat itu aku telah berpikir lebih jauh ke depan. Seandainya aku tidak mau operasi dan ternyata benjolan di payudara tersebut adalah kanker, dan seandainya aku punya anak yang masih kecil dan umurku ternyata tidak bisa menemani anakku lebih lama, maka aku akan meninggalkan anakku yang masih kecil dan suamiku gara-gara aku tidak mau operasi. Sekitar sebulan setelah menikah, akhirnya aku menjalani operasi payudara (tepatnya 28 April 2001). Dan alhamdulilah dari hasil pemeriksaan PA (Patologi Anatomik), benjolan tersebut merupakan tumor jinak yang disebut Adenomamamae. Dan alhamdulilah lagi sampai sekarang benjolan tersebut tidak kambuh lagi. Setelah menjalani operasi payudara tersebut, aku mulai tertarik untuk mengubah pola hidupku dengan pola hidup yang lebih sehat dengan menghindari sebisa mungkin semua makanan yang berbahan pengawet dan vetsin.
Sejak itu pengetahunku tentang benjolan pun makin bertambah. Setelah menjalani operasi yang pertama, aku sudah berniat untuk menjalani operasi yang kedua, tetapi Allah SWT merencanakan hal yang lain lagi. Aku diberi kepercayaan untuk hamil anak yang pertama. Saat itu aku berniat untuk hamil dan menyusui dulu selama 2 tahun, baru kemudian untuk menjalani operasi yang kedua (benjolan yang di leher). Selama hamil pun aku terus mengkonsumsi yodium (berbentuk cairan) yang aku dapatkan dari dokter penyakit dalam, tetapi konsumsi yodium tersebut tidak aku teruskan selama masa menyusui (kesalahanku yang pertama). Menurut dokter tersebut, benjolan itu memang harus dioperasi, tetapi karena aku sedang hamil, jadi untuk sementara operasi ditunda dulu. Setelah aku lewati masa menyusui selama 2 tahun lebih, di waktu yang aku rencanakan untuk operasi, ternyata aku dipercaya lagi oleh Allah SWT untuk hamil anak kedua. Kehamilan yang kedua ini aku tidak kontrol lagi ke dokter penyakit dalam mengenai benjolan yang di leher (kesalahanku yang kedua). Sempat saya datang ke dokter Bedah saat anak keduaku berumur 1 tahun 8 bulan, namun operasi ditunda karena anak belum genap 2 tahun. Kemaren, sekitar tanggal 20 Oktober 2007 anakku yang kedua sudah melewati umur 2 tahun dan hari itu mulai kusapih karena rencana sekitar bulan Nopember pengen operasi benjolan yang di leher.
Setelah berhasil menyapih anak yang kedua, tanggal 1 Nopember kemaren aku periksa ke dokter Bedah Tumor di RSPAD (dokter yang sama yang menoperasi saudaraku sekitar 6 bulan sebelumnya). Aku sengaja ke RSPAD setelah melihat saudara jauhku ternyata juga menjalani operasi kelenjar tiroid sekitar 6 bulan sebelumnya dan suaranya tidak berubah, sebab yang aku tahu resiko dari operasi kelenjar tiroid adalah terputusnya pita suara. Saat pemeriksaan fisik oleh dokter, diberitahukan bahwa benjolan tersebut mulai menjalar ke kiri.
Hari itu juga, aku menjalani serangkaian chek up untuk melihat kesiapan fisikku untuk operasi. Alhamdulillah semuanya menunjukkan kondisi normal (tes jantung, paru, rontgen, darah lengkap, urine, dan hormone tiroid). Dan operasi dijadualkan tanggal 7 Nopember 2007. tanggal 6 Oktober 2007 sore sekitar jam 14.00 WIB, aku mulai masuk kamar perawatan. Tanggal 7 Nop 2007 pagi sekitar jam 06.30 WIB, aku dipanggil suster untuk dibawa ke ruang OKA (Operasi). Sempet kaget juga, walaupun sudah mempersiapkan mental sedemikian rupa. Beberapa hal ada yang berbeda dari operasiku yang pertama. Kalau yang pertama aku dibius di ruang perawatan lewat suntikan dan baru tidak sadar sekitar setengah jam berikutnya, kalo operasi kali ini aku dibius di ruang operasi dan tidak sadar sekitar 2 menit setelah dibius. Jam 07.00 tepat, dokter anestesi datang, dan aku dibius sekitar 2 menit berikutnya lewat jarum infus yang baru dipasang di ruang operasi tersebut. Selama 2 jam penuh di ruang operasi, akhirnya sekitar jam 09.00 WIB aku sudah mulai dipindah ke ruang perawatan kembali. Tetapi aku baru sadar benar sekitar jam 12.00 WIB. Selama kurang lebih 3 hari aku pengennya tidur terus dan aku tidak bisa bangun dan duduk terlalu lama karena pengaruh bius. Menurut info dari suamiku, setelah operasi tersebut dokter pengen ketemu dengan suamiku tetapi karena miscommunication dengan perawatnya, akhirnya suamiku tidak ketemu dengan dokter setelah operasi. Sebenarnya dokter pengen memperlihatkan tumornya dan memberitahukan analisa dokter mengenai tumor tersebut. Ada sesuatu yang aneh disitu. Rupanya suamiku sudah diberitahu dokter mengenai jenis tumor tersebut keesokan harinya (8 Nop 2007), tetapi belum siap mental memberitahu aku. Tanggal 9 Nop 2007, pada waktunya dokter visit, disitu aku bertanya beberapa hal yang harus aku jalani setelah operasi tersebut. Dokter bilang, karena yang diambil tidak semua tiroid kanan dan kiri yang membesar, tetapi masih disisakan sebagian kecil tiroid yang sebelah kiri, sehingga akan ada tindakan lanjutan berupa ablasi (tembak nuklir). Jangan kaget dengan istilah tersebut, itu hanya proses tembak sel tiroidku yang cacat dengan sinar radioaktif, sehingga kelenjar tiroidku akan dihancurkan semua, baik kanan maupun kiri. Sebab kalau kemo kurang efektif. Setelah aku beritahukan hasil penjelasan dokter ke suami, baru suamiku cerita bahwa dokter sangat percaya bahwa tumor tersebut ganas dan harus segera ditindak dengan tembak nuklir as soon as possible. Saat itu aku belum begitu kaget dengan penjelasan dokter tersebut, secara mental aku sudah pasrah apapun yang harus aku jalani. Tanggal 10 Nop 2007, saat dokter visit aku bertanya mengenai luka bekas operasiku. Kata dokter, kalau tidak ada keluhan, maka Senin, 12 Nop 2007 aku bisa pulang. Saat itu sangat kutunggu-tunggu, aku sudah kangen anakku. Bayangkan saja, aku bepergian tetapi tidak jauh. Masih sama-sama di daerah Jakarta. Tetapi untuk ketemu tidak mungkin, karena tidak mungkin aku akan membawa anakku ke rumah sakit.
Tetapi hari senin itu, telah terjadi hal yang diluar dugaan. Kebetulan saat dokter visit, aku lagi di kamar mandi dan dokter meninggalkan aku begitu saja, padahal tagihan konsul dokter tetep ada. Ketika aku bertanya ke suster, ternyata ada beberapa pesan dokter tersebut untuk diriku. Hari itu, aku dijadualkan untuk konsul dengan dokter radiasi dan menjalani scan thyroid untuk menentukan dosis radioaktifnya dalam proses ablasi nantinya. Aku sempat marah, tetapi disitu aku mulai berpikir, mungkin keyakinan dokter akan keganasan tumorku lebih dari 95%, sehingga harus secepat mungkin dilakukan ablasi. Apalagi setelah hari itu aku bener-bener ketemu dengan dokter radiasinya, dari penjelasannya aku jadi tahu rupanya jenis tumorku tersebut adalah jenis tumor tiroid yang ganas kedua. Setelah itu, aku mulai kaget, stress, shock. Mulai muncul pemikiran yang macam-macam. Bagaimana jika umurku tidak panjang, sementara anak-anak masih kecil? Aku jadi ingin segera pulang untuk memeluk anakku, untuk minta maaf atas semua kekesalan-kekesalan yang pernah ketumpahkan pada anakku. Maaf atas terbuangnya waktu untuk bersama karena aku sibuk bekerja.
Untuk menghadapi pemikiran-pemikiran tersebut, aku dan suamiku mencari referensi tentang kanker tiroid dan ablasi di google. Dari situ aku jadi tahu apa, mengapa dan bagaiman kanker tiroid tersebut. Jenis, cara kerja, pengobatan, efek dan hasil pengobatannya seperti apa aku mulai tahu. Setelah itu aku jadi agak tenang.
Akhirnya hari rabu, tanggal14 Nop 2007 aku menjalani scan thyroid. Dan dari penjelasan dokter mengapa aku harus ablasi, akhirnya aku jadi tenang. Aku jalani saja semua saran dokter dan bahkan kalau bisa aku minta jadual ablasiku hari itu juga. Tetapi karena satu dan lain hal, aku dapat jadual ablasi tanggal 19 Nop 2007 dan itupun sudah jadual ablasi yang paling cepat. Hari Senin itu, aku menjalani proses ablasi dan harus di isolasi selama min 24 jam dan menjaga jarak terutama dengan anak balita dan wanita hamil selama kurang lebih 7,25 hari. Aku harus opname di RS lagi kurang lebih 4 hari.
Sejak hari ini dan untuk seumur hidup, aku sudah tidak punya kelenjar tiroid lagi yang bisa mengolah yodium untuk menghasilkan hormon tiroid. Sehingga harus minum thyrax setiap hari seumur hidupku sebagai pengganti hormon tiroid tersebut. Sebab kalau aku kekurangan hormon, aku akan lemas (hipotiroid). Sementara kalau kelebihan tiroid, aku akan gemetaran(hipertiroid). Sebab hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap keseimbangan tubuhku. Tapi aku jalani semua itu dengan senang hati, aku masih sangat bersyukur masih bisa berobat sebelum kanker tersebut merambat ke yang lain.
Setelah aku lewati itu semua, akhirnya sekarang aku sudah bisa komunikasi lagi dengan keluargaku dan temen-temenku. Satu hal yang paling penting disini adalah BIASAKAN ANAK-ANAK UNTUK MENGKONSUMSI HASIL LAUT. Kalau katanya garam harus beryodium, sebenarnya pengaruh garam terhadap yodium kita hanya 5%, yang lainnya bisa berasal dari hasil laut seperti ikan laut, rumput laut dan olahannya. Untuk bahan pelengkap, akan saya kirimkan beberapa artikel yang menyangkut tiroid, cara kerja, dan benjolan di tiroid. Karena tidak semua benjolan di tiroid itu harus operasi, tidak semua benjolan di tiroid harus di ablasi. Hanya untuk diketahui, bahwa ablasi itu tidak selalu untuk menghancurkan kelenjar tiroid, karena itu semua tergantung keluhan dan tingkatan benjolan tersebut.
Sekian dulu bagi ceritanya, semoga bisa diambil manfaatnya buat kita semua. Saya hanya pengen bagi pengalaman supaya temen-temen tidak seperti saya.
Kalau Ada Masalah Dan Jelas Penyelesaiannya, Jangan Takut Untuk Segera Menyelesaikannya. Jangan Ditunda, Karena Hanya Akan Membuat Masalah Tersebut Menjadi Besar. Selanjutnya Tinggal Berdo’a Kepada Allah Swt, Tawakkal.

Segala sesuatunya itu bersumber dari Allah SWT dan akan kembali kepadaNya. hanya kepada Allah SWT tempat meminta pertolongan.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.